Potret Pengrajin Kapal Nelayan Pantai Cilincing, Jakarta

Bagaimana wajah pengrajin kapal tradisional kita? Berikut pemaparan dari Jurnal Maritim

Pengrajin Kapal Nelayan Pantai Cilincing. Foto Kredit: Firmanto Hanggoro

Pengrajin Kapal Nelayan Pantai Cilincing. Foto Kredit: Firmanto Hanggoro

Banjaran kapal terlihat bersandar miring di tepian pantai berbatu. Kondisinya miris memprihatinkan. Penampakannya sedari jauh saja sudah terkesan tidak laik untuk berlayar. Tidak jauh dari sana terlihat aktivitas pertukangan. Mereka tengah memperbaiki perahu-perahu yang kondisinya tidak jauh berbeda dari perahu bersandar miring di tepian pantai.

Tangan-tangan cekatan bekerja terampil di atas rangka kayu yang akan dijadikan bahan dasar pembuatan kapal. Kayu-kayu itu didatangkan dari Jepara, beragam jenisnya, seperti jati dan laban. Suatu jenis kayu berbahan yang diperhitungkan kokoh dan awet, demi mengarungi luasnya lautan.

Para pengrajin kapal nelayan tradisional di tepian Pantai Cilincing, Jakarta Utara, kebanyakan merupakan pendatang dari Cirebon. Sebagian besar dari mereka sudah sangat akrab dengan kehidupan memecah ombak.

Soal keamanan dan kenyamanan melaut, sudah barang tentu menjadi hal utama yang senantiasa diperhatikan, karena hal itu terkait hasil seberapa banyak pendapatan menjaring ikan demi perbaikan nasib keluarga.

Keahlian yang diperoleh secara turun-temurun itu ternyata memang tetap masih dipertahankan. Terlihat dari penggunaan bahan-bahan dan alat pertukangan tradisional, seperti kapak perimbas, juga pasak kayu besar maupun kecil, sebagai alat penyambung rangka di tiap-tiap bagian kapal.

Besar biaya pembuatan kapal baru berukuran 10 GT bisa mencapai harga lebih kurang Rp150 juta, sedangkan untuk biaya renovasi tergantung besar kecilnya kerusakan yang dialami sebuah kapal.

Itulah sekelebat wajah pengrajin kapal nelayan tradisonal yang berdiam di tepian Pantai Cilincing, Jakarta. Dengan keahlian warisan yang diturunkan dari kakek buyut yang juga pelaut, mereka bertahan di antara empasan ombak yang sering kali mendatangkan cuaca tidak menentu bagi perekonomian keluarga.

Sumber: Jurnal Maritim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s